Author: kq2vd

  • Utilisasi Membaik, Pabrik Baja Terancam Kehabisan Bahan Baku

    Permintaan dan utilisasi industri baja nasional telah membaik pada kuartal III/2020 dibandingkan pada masa awal pandemi Covid-19. Namun demikian, kekurangan bahan baku dinilai jadi katalis utama kembali turunnya utilisasi pada kuartal IV/2020.
    Andi M. Arief – Bisnis.com – 14 Oktober 2020 | 18:58 WIB

    Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2).ANTARA FOTO – Zabur Karuru

    Bisnis.com, JAKARTA – Meski resesi Indonesia masih membayang, permintaan dan utilisasi industri baja nasional diklaim membaik pada kuartal III/2020 dibandingkan pada masa awal pandemi Covid-19. Namun, kekurangan bahan baku diproyeksi menjadi katalis utama penurunan utilisasi pada kuartal IV/2020.

    Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) mendata bahwa kondisi industri logam dasar besi dan baja telah membaik ke level 41,32 per kuartal III/2020 dari posisi 27,81 per kuartal II/2020. Namun, angka tersebut diramalkan akan kembali turun ke posisi 39,81 pada kuartal IV/2020.

    Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mendata permintaan besi dan baja di dalam negeri telah mencapai 80 persen dari kondisi pra-pandemi Covid-19. Walau permintaan naik, transmisi ke utilisasi industri masih terbatas lantaran stok bahan baku yang tinggi akibat penurunan permintaan pada kuartal II/2020.

    “Permintaan kuartal III/2020 jauh membaik walaupun belum 100 persen recovery. [Permintaan] ini kan otomatis merefleksikan utilisasi. Saya tidak mau angkan [angka utilisasi] karena angkanya tentu kecil,” ujar Ketua Umum IISIA Silmy Karim kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).


    Terpisah, Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry mencatat utilisasi industri besi dan baja nasional telah meningkat ke kisaran 50-60 persen per kuartal III/2020. Angka tersebut jauh membaik dari realisasi kuartal II/2020 di kisaran 30-40 persen.

    Ismail berujar kenaikan utilisasi tersebut disebabkan oleh pergerakan proyek-proyek infrastruktur vital pemerintah. “Apa yang dikatakan Pak Silmy benar, [utilisasi industri] sedikit membaik.”

    Walakin, Ismail meramalkan utilisasi pada kuartal IV/2020 berpotensi kembali ke posisi 30-40 persen. Menurutnya, katalis penurunan tersebut adalah terbatasnya bahan baku skrap baja di dalam negeri.

    Ismail mendata bahan baku skrap di dalam negeri hanya mencakup 20-30 persen atau sekitar 1 juta ton dari total kebutuhan industri sekitar 5 juta ton per tahunnya. Adapun, kecilnya skrap baja di dalam negeri dipengaruhi oleh sistem penanganan sampah di dalam negeri dan karakteristik produk besi dan baja yang memiliki waktu pakai yang lama.

    Ismail menyampaikan kesulitan ketersediaan bahan baku di dalam negeri juga didorong oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 58/2020 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Sebagai Bahan Baku Industri. Adapun, Ismail berujar pihaknya telah meminta permendag tersebut untuk direvisi setelah diundangkan pada 18 Juni 2020.

    Selain itu, penerbitan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 18/2020 tentan Pemanfaatan Limbah B3 tidak mengubah status quo terkait slag baja. “Saya tidak mengerti [kenapa pemerintah] bukan memudahkan [proses produksi], tapi dipersulit.”


    Editor : Fatkhul Maskur
    courtesy of Bisnis.com

  • Di Tengah Corona, RI Masih Genjot Ekspor Baja hingga ke AS

    Jakarta – Di tengah lesunya perekonomian dalam negeri karena wabah virus Corona, PT Tata Metal Lestari, produsen baja lapis alumunium seng dan baja lapis seng mengekspor produknya ke beberapa negara, di antaranya Amerika Serikat, Puerto Rico, dan Kanada.

    Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Dini Hanggandari mengatakan, langkah ekspor merupakan langkah yang sangat tepat. Sebab, saat ini utilisasi baja tengah menurun hingga 50% karena pemerintah masih fokus dalam penanganan virus corona.

    “Pada dasarnya kalau untuk baja ini kita butuh untuk pemenuhan dalam negeri sendiri. Tapi jika ekspor dilakukan oleh industri yang produknya secara suplai sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri, itu (ekspor) sebagai diversifikasi pasar. Jadi itu (ekspor) memang kita dorong. Karena sekarang kan untuk produk hilir demandnya sedang berkurang. Karena orang perbelanjaan banyak ke obat-obatan, masker dan segala macam. Jadi kita berharap adanya diversifikasi pasar dengan melakukan terobosan ekspor. Jadi kita harapkan dengan adanya ekspor ini industri dapat bertahan dalam situasi seperti sekarang ini,” terang Dini dalam keterangannya, Jumat (10/4/2020).

    Dini menambahkan, guna mendorong ekspor ini pemerintah juga telah melakukan berbagai cara yang dapat memudahkan pelaku industri baja menembus pasar mancanegara. Selain menjamin suplai bahan baku dalam negeri sehingga rantai pasok tetap terjaga, pemerintah juga punya fasilitas FTA dengan negara mitra untuk menurunkan bea masuk produk dari Indonesia.

    Selanjutnya mengenai standar yang dibutuhkan untuk menembus pasar ekspor Dini menjelaskan, pada dasarnya SNI produk baja yang disusun dalam negeri sebagian besar juga sudah mengacu pada standar internasional.

    “SNI yang disusun dalam negeri sebagian besar sudah mengacu pada standar JIS dan ASTM. Sehingga secara umum standar internasional dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri apabila industri tersebut sudah memenuhi SNI,” terangnya.

    Sementara itu, Stephanus Koeswandi, Vice Presiden PT Tata Metal Lestari menuturkan, total nilai BJLAS dan BJLS yang diekspor kali ini mencapai 300 ton pada tahap awal. Namun untuk selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 2.000-3.000 ton per bulan dengan nilai US$ 1,6-2 juta.

    Ia menambahkan, ekspor perdana ini menunjukan bahwa baja produksi PT. Tata Metal Lestari yang merupakan 100% milik Indonesia (PMDN) terbukti bisa bersaing di pasar internasional dan memiliki standard mutu yang diakui secara internasional pula. Dengan pengalaman menjaga kualitas lebih dari 25 tahun, PT. Tata Metal Lestari yang merupakan anak perusahaan dari Tatalogam Group memiliki komitmen dalam kualitas.

    “Ekspor perdana ini merupakan awal dari milestone bagi BJLAS (Baja Lapis Alumunium Seng) dan BJLS (Baja Lapis Seng) produksi PT Tata Metal Lestari agar diterima di pasar global. Produk-produk yang diekspor tentu memiliki spesifikasi yang berbeda, dimana juga menggunakan standar mutu yang berbeda pula, yaitu ASTM (American standard), JIS dan European Standard. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi produsen baja nasional guna menyesuaikan ke beberapa standard mutu internasional pada produknya,” jelas Stephanus.

    Stephanus berharap, langkah ekspor yang dilakukan PT Tata Metal Lestari juga dapat berkontribusi terhadap penerimaan Negara di tengah pandemi COVID-19 yang secara perlahan mengganggu roda perekonomian di semua lini.

    “Ekspansi PT Tata Metal Lestari ke luar negeri serta penggunaan produk dalam negeri ini diharapkan dapat menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia, dan diharapkan akan memberikan kontribusi atau pengaruh yang positif terhadap devisa negara, utamanya di tengah menurunnya kondisi ekonomi dalam negeri akibat pandemi COVID-19 ” jelasnya.

    Courtesy Of Detik Finance